Cerita by
HILMY Lilhero
At 2012
“Kak hilmy, bangun kak, udah siang!!” Adikku mengguncang-guncang
tubuhku yang masih asyik meringkuk dibalik selimut sambil memeluk
guling.
“ahh kakak, kebluk banget sihh mau ke kampus gak kak?” Guncangnya
lagi membuat aku kesal karena bibir mungilnya berteriak tepat di
telingaku.
“Acep, berisik banget ya pagi-pagi!” bentakku yang terpaksa bangun karena ulahnya barusan.
“Ini sudah siang kak, lihat tuh jam gimana sih?” adikku menunjuk jam weker di meja tepat di samping kasurku.
“ujukupret” aku langsung terhenyak dari tidurku, Demi melihat waktu
sudah jam Lima lebih Dua jam. Hari ini ada mata kuliah jam 7. tapi ada
sesuatu yang aneh, kenapa jam analog ku gak berdering, perasaan sudah di
set jam 6 pagi, dengan penuh penasaran aku langsung mengecek jam weker
ku
“Aceppppppppp”
Mendengar teriakanku, adikku langsung terbirit keluar kamar sambil
cekakakan, Rupannya si jail itu sudah mengubah settingan alarmku jadi
jam 9, emang dasar nyebelin tuh anak, anaknya emang super jail. ini
bukan ulah pertamanya, memang ada aja ulah anak unyu ini. Gak aku, mama
sama papa juga udah termasuk korban kejailannya. Dia baru kelas satu SMP
umurnya 12 tahun. Dia biasa aku panggil deblo (dede belo) karena
matanya itu belo, sama sih aku juga belo tapi kebeloan aku kalah dari
belonya dia.
“sudahlah mi, lagian kamu kebiasaan susah bangun, makannya jangan
Cuma ngandelin jam weker doank, kan hape kamu juga ada alarmnya” nasehat
mama alfi di meja makan ketika kami sedang sarapan, sedangkan adikku
masih saja cekikikan di kursi, dia memang sedang libur sekolah
“iya mah, tapi jam weker ku diiii” omongan ku segera di potong acep yang duduk di sebelahku.
“iyaa tuh kak, kakak kan males bangunnya suka kesiangan” potong adikku
“bukan gitu mah, tapiii” penjelasanku yang kini di potong sama papah ali
“udah berisik hilmy, acep setiap hari kalian ribut mulu, cepetan
hilmy entar kesiangan, papah juga udah telat ke kantor” potong papah Ali
yang membuat aku dan acep berhenti berdebat.
Aku pun buru-buru nyelsain sarapan dengan meminum segelas air putih dan satu gigit roti isi.
“mah, hilmy berangkat dulu ya mah” aku mencium tangan mamahku yang bawel ini, kemudian aku menghampiri Acep
“awas yaa cep, entar kakak balas lebih kejam, lebih tajam setajam
golok” bisikku ke telinga acep. Acep hanya tertawa kegirangan, aku cubit
aja pipinya eh dia malah kabur, sepertinya dia sudah tau, soalnya
setiap pagi pasti tuh aku cubit pipinya, emang dasar nyebelin.
Akhirnya aku berangkat ke kampus, dengan langkah tergesa-gesa. Dan
seperti biasa meskipun kami ribut tapi kami tidak lupa untuk bersalaman
khas kami.
***
“mi, adek lo mana? katanya lo mau ngajak dia” dengan langkah tergesa
Sarah menghampiriku yang sudah menunggunya dari tadi. Sarah itu sahabat
aku, aku dan Sarah emang sudah janjian di mall ini, kami sengaja
memilih foodcurt di lantai paling atas sebagai tempat pertemuan kami,
selain bisa santai, kami juga bisa browsing dan Interneta sepuasnya,
karena dilengkapi dengan fasilitas Wi Fi. (Sponsor)
“Jauh udah nunggu lama gue, sampe nih pantat akaran yang elu tanyain
adek gue!” rututku kesal yang langsung disambut tawa kecil sahabatku
itu.
“yaa maaf abisnya gue kangen banget sama si deblo, tadi di jalan gue
kejebak macet brow. Oh ya, katanya ada yang mau di ceritain, apaan
tuh?”mendengar colettahannya, aku langsung membuang ekspresi cemberutku
kemudian menarik nafas sejenak.
“gini rah, akhir-akhir ini ada yang aneh dengan adek gue, kamar gue
sama kamar dia kan bersebelahan, beberapa hari ini gue sering denger
acep ngomong sendirian dikamarnya, kaya tadi malam dia masih ngobrol
sama seseorang, kayanya obrolannya itu ada hubungan sama gue”aku mulai
bercerita apa yang aku alami tadi malam, ya akhir-akhir ini acep jadi
aneh suka ngomong sendirian.
“yaa hilmy, dia kan masih kecil. Di usianya yang sekarang itu hal
yang wajar, biasanya mereka punya teman sendiri, yaitu yang ada dalam
pikirannya, gue juga waktu kecil gitu suka ngomong sendirian,” Sarah
Nampak tenang mendengar ceritaku.
“Tapi rah, teman acep itu kaya yang benar-benar ada. Gue ngerasain sesuatu yang aneh dengan sikap adik gue”lanjutku cemas.
“sudahlah mi, dia gak apa-apa koq, percaya sama gue. Dia tuh calon
handal abad ini” terangnya bangga sambil terkikik, aku hanya tersenyum
kecil melihat ulahnya. Pikiranku masih diselimuti pertanyaan-pertanyaan
aneh tentang adikku. Sebenernya aku sudah bicarain hal ini sama mamah
alfi, dan jawabannya percis seperti Sarah barusan, katanya dulu juga aku
begitu suka ngomong sendirian.
“Hai acep, dari mana saja kamu!?”
“Hai kak Sarah, barusan acep baru maen dari sana”adikku menunjuk
suatu tempat permainan yang ada di sebelah kanan tempat kami duduk.
“kak arah, katanya kemaren mau beliin acep Es krim Magnum Gold (*Sponsor), mana nih?”
“hush, kamu masih inget aja yaa? Itu kan janji kak arah setahun yang
lalu”aku pura-pura menegur adikku, niatnya sih mau menyindir arah,
“iyaa deh deblo, entar kakak beliin” Ujar arah seraya mencubit kecil pipi adikku.
“oh ya cep, semalam kamu mimpi apa? Koq sampai kamu ngomong
sendirian!” mendengar pertanyaanku, adikku langsung terhenyak, dia
memandangku sejenak dan menyeruput milkshake pesenannya tadi di meja,
aku dan arah hanya memperhatikan ulah acep, sambil menunggu jawabanya.
“Namanya wardah, dia teman baruku, dia seumuran dengan ku, setiap
malam wardah datang ke kamarku, kami slalu main sama-sama, aku ajarin
dia maen game di laptop, atau ngobrol, pokoknya dia bakalan pergi kalau
aku sudah ngantuk”penjelasan adikku membuat aku tercengang, Sarah
memandangku sambil mengerutkan keningnya mengangkat bahu tanda tak
mengerti.
“apa dia nyata, atau hanya ada dalam imajinasi kamu saja cep?”Tanya sarah mulai penasaran.
“tentu saja nyata, memangnya kenapa sih kak?”volume suara adikku
sedikit mengeras, nampaknya dia tidak suka kami mengintrogasinya.
“kakak ngerasa aneh aja cep, dia datang dari mana coba, koq tiba-tiba
muncul dikamar kamu?”aku juga ingin semakin tahu, apa munkin sahabat
adikku itu hantu? Hihiiyyy
“Acep juga gak tau kak, kadang dia muncul dari lemariku, katanya dia
seharian ngumpet disitu, kadang mengetuk pintu dulu, pokoknya sebelum
jam dua belas malam dia slalu mengunjungiku”tak ada keraguan di wajah
adikku ketika menceritakan teman misteriusnya itu. Tampaknya dia tidak
sedang mengarang cerita. Aku jadi khawatir dengan keadaan adikku, siapa
sebenarnya temannya itu yang bernama wardah?
***
“wardah, kakakku nggak mungkin mau aku ajak liburan ke pantai. Dia
itu trauma sama namanya ombak, pokoknya pasti nggak mau deh,” suara
adikku dari kamar sebelah kembali terdengar sayup-sayup di telingaku.
Tidak ada sahutan dari lawan bicaranya, aku hanya mendengar suara acep,
sepertinya adikku sedang menanggapi perkataan teman barunya yang masih
misterius itu. Ku lirik jam wekerku, setengah dua belas malam.
“wardah, jangan donk. Kamu jangan kaya gitu. Mama, papa sama kakakku
bisa marah sama aku”lagi-lagi kata-kata yang tidak jelas maksudnya,
terlontar dari mulut acep. Karena penasaran, aku beranikan diri untuk
menengok ke kamarnya. Aku ingin tahu siapa yang berbincang dengan adikku
sebenarnya.
Aku berjalan menuju kamar acep. Sesampainya didepan pintu, aku tidak
langsung masuk. Ku rapatkan telingaku di pintu dan sedikit tersentak
kaget karena mendengar suara benda jatuh dari dalam.kedengarannya cukup
keras ditelingaku.
“BRUKK!!”serta merta aku langsung membuka pintu kamar acep yang memang dibiarkan tidak terkunci.
Hening, hanya suara detak jarum jam dinding bergambar Angry Bird yang
aku dengar disana. Aku menatap sekeliling ruangan, sebuauh buku tebal
Nampak tergeletak dilantai dekat rak buku. Mungkin itu benda yang aku
dengar jatuh tadi. Sedangkan adikku dengan pulasnya terlentang di tempat
tidur. Seperti biasa tidurnya gak bisa diam. Bukannya kepala yang ada
dibantal, malah kakinya, selimutnya ada dibawah kasur, gulingnya juga,
seprainya juga tidak kalah berantakan. Wah…wah…wahhh dasar, tapi acep
kalo dibangunin gampang gak susah kaya kakaknya ini.
Kudekati tubuh adikku, wajahnya tampak kelelahan. Kata orang-orang
adikku ini sangat lucu da menggemaskan, tapi bagiku adikku ini adik yang
bawel nyebelin dan jail. Anak 12 tahun yang hobi banget sama namanya
Bola Voly, padahal aku gak suka Bola Voly, lebih suka ke sepak bola tapi
gak bisa maennya. Banyak perbedaan dan kesamaan dari kami, perbedaannya
adalah dalam dunia bola dia suka Barcelona, aku suka Manchester United,
dalam dunia music dia suka lagu Pop, aku suka lagu R&B dan HipHop.
Tapi kami juga punya kesamaan yaitu sama-sama bawel, jail dan nyebelin
dan kalo berangkat suka pake sepatu didalam rumah, kalo mandi suka lupa
bawa handuk, kalo BAB ceboknya harus pake sabun. Di balik perbedaan itu,
kami slalu kompak meski kami suka beda pendapat.
Ku dekatkan taganku ke wajahnya,Ku cubit pipi adikku pelan, ternyata perbuatanku membuatnya terbangun.
“kak hilmy?koq ada di kamar acep kak?ngapain”setengah mengantuk,
adikku berbicara kepadaku. Adikku mengeliat dan menutupi mulutnya yang
mulai menguap.
“tadi kakak denger kamu lagi ngobrol nggak tahu sama siapa. Makanya
kakak kesini buat mastiin siapa sebenarnya yang sedang berbicara sama
kamu cep,” adikku bangkit dari tidurnya, dia duduk dikasur lalu
memandangku lekat-lekat.
“dia sudah pergi kak”sahutnya pendek. Aku semakin bingung dibuatnya.
Secepat itukah teman barunya menghilang?padahal tadi diluar kamar, aku
masih mendengar obrolannya meskipun telingaku tidak menangkap suara
lawan bicara adikku.
“kak hilmy, acep boleh minta sesuatu gak?”aku tersentak dari dunia khayalku.
“minta apa cep”
“mmh.. minggu besok temenin acep ke pantai ya kak?, acep pengen banget liburan ke pantai, kakak mau yaa?”pintanya memelas.
“Pantai? Cep, kamu tahu sendiri kan? Kakak itu phobia sama namanya
pantai, kakak sudah nggak mau lagi kesana, kakak takut cep, melihat
pantai di tv aja kakak ngeri apalagi datang langsung”
“tapi kak, pantai itu indah. Lagipula wardah pengen banget kakak
pergi kesana. Dia nyuruh acep buat ngajak kakak ke pantai, kalau enggak
dia bakalan jahat sama aku kak” obrolannya tampak serius, tapi aku masih
tidak percaya dengan celotehan adikku.
“dulu pantai itu indah seperti surga, tapi sekarang pantai itu tempat
yang mengerikan. Memangnya siapa wardah itu beraninya nyuruh kakak.
Pokoknya kakak nggak mau, kalo kamu tetep ngotot kamu ajak aja mama sama
papa”
“nggak bisa kak, wardah pengennya kakak ikut”
“wardah lagi, wardah lagi. Sudah lah cep, jangan bicara omong kosong
terus, weardah itu cuman teman khayalan kamu, wardah itu nggak nyata”aku
tidak menggubris ucapannya
“sudahlah, kakak ngantuk. Kakak mau tidur”aku mengambil bantal guling
berwarna merah yang terletak dibawah kasur. Ku rebahkan tubuhku diatas
tempat tidur adikku. Serta merta, adikku langsung memprotes ulahku.
“idiiih, kak hilmy, itu kan bantal guling acep. Kak hilmy nyempitin
aja nih, acep tidur dimana kak?”teriaknya sembari berusaha merebut
bantal gulingnya dari pelukanku. Namun aku mendekap guling kesayangnya
yang bergambar barca, aku mendekapnya dengan erat sambil
membelakanginya.
“kak hilmy nyebelin”
“hahh ciyuss?? Miapa?, bodo amat ahh, kakak ngantuk nih sudah kamu
tidur dibawah aja, lagian tidur kamu itu gak bisa diam, besok pagi juga
tahu-tahu kamu udah bangun di bawah, terus guling ini juga buat apa ntar
kamu tending-tendang nih guling, kasur sendiri dibikin kapal pecah..
hmmm.. selimutnya juga kakak pakai juga ahh” aku menarik selimut adikku,
sempat heran karena tidak suara teriakan protes dari adikku. Ku balikan
badanku, eh gak tahunya udah tidur pulas disampingku. Jadi dari tadi
aku ngoceh sendirian?Huhhhh dasar adek jail. Wkwkwkwk
***
Hari-hari berikutnya banyak kejadian aneh yg menimpa adikku.
Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, pasti ada aja ulahnya. Sepatunya
hilang sebelah lah, seragamnya tiba-tiba kotor lah, padahal tuh seragam
baru kering kemarin dan semalam baru disetrika.
“Ini pasti ulahnya wardah. Tuh kan bener kan kak? Dia jadi jahat sama
aku” teriaknya panic, karena pagi ini, giliran buku PR nya yang raib
dari tasnya.
“lahh koq jadi salah kakak? Kamu lupa naro kali cep, coba cari yang
bener” ketusku kesal,sebab setiap hari ada aja yang di ributinya dan dia
selalu menyalahkan wardah dan aku. Katanya gara-gara aku gak mau di
ajak ke pantai, wardah jadi marah sama dia. Huhh, seenaknya saja
nyalahin orang lain.
Hari terus berganti dengan berbagai kejadian menyebalkan yang menimpa
adikku. Aku tetap tidak menghiraukannpernyataannya yang aku anggap
konyol. Mana mungkin teman misteriusnya itu tiba-tiba muncul lalu
membuat ulah di rumah ini? Apa itu sangat sunnguh tidak masuk akal?
Namun beberapa hari kemudian, giliran aku mengalami kejadian-kejadian
aneh. Setiap pulang kuliah, kamarku slalu berantakan. Buku-buku yang ada
di rak bertebaran dimana-mana. Ketika aku menanyakannya kepada seluruh
penghuni rumah, tak seorangpun yang mengakui perbuatan konyol itu.
Begitupula adikku, dia hanya bisa bilang kalau semua ini pasti
perbuatannya wardah yang sedang marah sama aku. Lagi-lagi adikku itu
membuatku dongkol.
Tiga hari berturut-turut kejadian it uterus berlanjut. Aku tidak tahu
kapan perbuatan itu dilakukan oleh orag yang tidak bertaggung jawab. Di
hari keempat, kebetulan aku pulang kuliah lebih awal. Rupanya adikku
juga sudah pulang sebab aku melihat tas ranselnya tergeletak begitu saja
di kursi ruang tamu ketika aku masuk tadi.
Ku langkahkan kaki menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Dari
luar kamar, aku sempat mendengar beberapa benda berjatuhan di dalam
ruang pribadiku. Hmmm.. pasti ini orang yang setiap hari mengobrak-abrik
kamarku. Lihat saja, aku bakalan bikin perhitungan. Bathin k uterus
menggumam walaupun ada sedikit perasaan was-was, takut apa yang
dikatakan adikku benar. Bagaimana jika wardah-wardah itu berwujud
makhluk halus? Hiiyy.. ah tapi, masa siang bolong begini ada hantu sih?
Kubuang perasaan takutku ke tong sampah dekat pintu kamarku. Ku
beranikan diri membuka pintu kamarku, dan.
“Acepppp!!” adikku yang sedang memainkan komputerku terlonjak kaget.
Sejenak dia memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya menatapku, dia
Nampak ketakutan lalu ambruk ku dekati tubuh adikku dan langsung
mengguncang-gucang badannya.
“Heh bangun, cep! Jangan pura-pura pingsan ya! Ayo bangun, mau
nyangkal apa lagi, sekarang sudah jelas siapa yang setiap hari
ngacak-ngacak kamar kakak! Bangun cep. Kalau enggak, kakak cubit nih”
aku mendaratkan cubitanku dilengannya, dia tetap tak bergerming dengan
posisinya. Perasaanku yang tadinya kesal berubah menjadi khawatir,
ketika dia benar-benar pingsan. Apa dia shock karena aku datang dan
membentaknya secara tiba-tiba?
“acep, bangun cep” lirihku sembari menepuk pipinya pelan.
***
“kak, percaya sama acep kak. Bukan acep yang ngelakuin semuanya,”
“denger ya cep, kakak dari dulu sudah bilang kalau kakak gak suka ada
orang yang masuk ke kamar kakak, memakai barang-barang kakak tanpa
izin, apalagi ini sampai mengacak-ngacaknya. Kakak gak suka cep, terus
siapa lagi kalau bukan kamu yang ngelakuin semuanya”aku tetap bersikeras
memaksanya untuk mengaku setelah baru saja adikku bangun dari
pingsannya.
“wardah, dia yang ngacak kamar kakak. Tadi aku kesini untuk menyegahnya kak”bantahnya lagi.
“wardah, wardah, wardah? Bagaimana mungkin kamu bisa menuduh orang
lain sedangkan yang ada di kamar kakak Cuma kamu cep. Terus bagaimana
bisa kamu masuk ke kamar kakak, padahal pintunya sudah kakak kunci?”
bentakku kesal.
“Acep juga gak tahu bagaimana caranya dia masuk ke kamar kakak. Dia tiba-tiba pergi begitu saja setelah kakak muncul,”
“yang kakak tanyain tuh bagaimana caranya kamu bisa masuk ke kamar
kakak, bukan wardah. Sudahlah kakak capek berdebat sama kamu cep. Kamu
jadi aneh cep. Sekarang kamu ke kamar, tunggu sampai mama pulang
belanja,” lanjutku menyudahi pertengkaran kami. Acep beranjak dari
tempat tidurku dan melangkah gontai menuju kamarnya.
***
Rasa haus di tenggorokanku membuat aku terbangun di tengah
malam.kunyalakan lampu kamar kelu, mulutku terkunci rapat tidak bisa
mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya nafasku saja yang terus memburu,
jantungku berdetask kencang demi melihat seorang anak perempuan seumuran
adikku kini telah berjalan mendekatiku.
“Namaku wardah, kak hilmy gak usah takut. Aku gak jahat koq, aku gak
bakalan ngigit kakak. Aku Cuma pengen ngobrol sama kakak” ucapnya ramah
seraya tersenyum manis kearahku. Perlahan-lahan aku bisa mengendalikan
diri dan mulai bisa berkata-kata
“Ma..mau ngobrol apa?” tanyaku agak tergagap.
“Sebelumnya aku mau minta maaf karena sudah membuat kak hilmy kaget,
dan akhir-akhir ini telah membuat kekacauan dirumah ini. Aku terpaksa
memanfaatkan Acep untuk melakukan semua itu,” dia terdiam sejenak
kemudian melanjutkan ceritanya.
“Dulu aku hanya bisa mengendalikan pikiran orang lain yang lebih
kecil atau seumuran denganku. Sekarang aku mencoba mengendalikan pikiran
kakak,”
“mengendalikan pikiran? Maksud kamu?” potongku tak mengerti.
“Ini seperti mimpi, tapi nyata. Sulit untuk aku jelaskan kak. Yang
pasti dengan begini aku bisa berinteraksi dengan orang lain, meskipun
sebenarnya jasadku sedang tidak berada disini. Aku juga bisa membuat
orang lain melakukan apa yang aku inginkan. Seperti akhir-akhir ini,
memang acep yang membuat kekacauan, tetapi itu diluar kesadarannya. Di
pikran dia, akulah pelakunya. Tetapi di dunia nyata dia sendirilah yang
melakukannya,” kata-kata wardah sulit dipercaya. Aku hanya bisa menyimak
tanpa berani bertaya lebih jauh.
“Kak Hilmy mungkin belum bisa memahami semua ini. Akan aku jelaskan
kenapa aku bisa berinteraksi dengan kakak. Begini kak, aku dilahirkan
dalam keadaan tidak normal. Kulitku tidak bisa menahan sinar matahari
sehingga membuatku harus tetap berada di ruangan dengan suhu tertentu.
Tapi aku diberi kelebihan, yaitu bisa berinteraksi jarak jauh lewat
pikiran dengan syarat, bagian tubuhku ada ditempat itu. Mungkin kakak
masih ingat, apa yang membuat kakak trauma dengan laut,” ucapannya
memaksaku untuk memutar memori ke kejadian setahun yang lalu.
Ketika itu, aku dan teman-temanku pergi ke pantai Cipatujah yang
berada dikawasan Jawa Barat. Aku bersenang-senang disana dengan cara
seperti anak Punk, aku kesana buka dengan kendaraan pribadi. Malahan aku
gak bawa uang sepeserpun. Aku dan teman-temanku menempuh pantai
Cipatujah dengan menumpang ke Mobil yang mengangkut kami, baik itu truk
atau sebuah pick up. Akhirnya sampai juga dipantai Cipatujah, tapi
tiba-tiba sesuatu yang buruk menimpaku. Pada saat kami berenang melawan
ombak yang cukup pasang, kakiku kram dan sulit digerakan. Teman-temanku
sudah jauh dari pandangan, aku terpisah dari mereka dan terseret ombak
sampai ke tengah laut. Sesekali aku berteriak meminta tolong. Ombak yang
pasang membuatku terombang-ambing sampai akhirnya bagian mataku
terbentur karang hingga mengeluarkan banyak darah. Beruntung aku segera
diselamatkan oleh penjaga pantai yang denga sigap memberikanku
pertolongan pertama sebelum diboyong ke rumah sakit.
Seharian aku berbaring di rumah sakit. Sebelah mataku masih dibalut
perban. Setelah perbannya dibuka, aku menjerit karena penglihatan mata
kiriku sudah hilang. Aku hanya melihat dengan mata sebelah kanan saja.
Kata dokter, kornea mataku telah rusak dan untuk menyembuhkannya, aku
harus dioperasi. Tetapi operasi itu tidak dapat dilakukan sampai ada
orang yang mau mendonorkan kornea matanya untukku.
Seminggu kemudian, aku dibawa ke Jakarta untuk menjalani operasi
disana. Dari dokter kenalan papaku disana katanya ada seorang pasien
yang bersedia mendonorkan kornea matanya untukku. Akhirnya akupun
berhasil menjalani operasi kornea mataku dengan sukses. Aku sangat
bersyukur mataku telah kembali normal. Aku sangat berterima kasih, ini
semua berkat do’anya mama alfi, papa ali dan Jagoan Kecilku Acep. Dan
tidak lupa kepada seseorang yang telah mendonorka kornea matanya
untukku. Sejak kejadian itu, pantai menjadi tempat mengerikan baiku.
“Kornea mataku ada di mata kakak, makannya aku berada ditempat ini
dan bisa berinteraksi dengan Acep dan kakak” Ucapannya membuyarkan
lamunanku.
“Ap..apa kamu masih hidup wardah? Atau..”
“Aku masih hidup kak. Tapi keadaanku semakin hari semakin memburuk.
Sebelum aku pergi, aku ingin sekali melihat laut. Kata mamahku, laut itu
indah. Aku ingin pergi kesana kak, tapi itu mustahil. Hanya dengan kak
hilmy pergi kesana, aku bisa melihat indahnya laut. Kakak mau
kan?.,Please.. aku janji, setelah itu aku nggak bakalan ganggu kakak
sama Acep lagi,” lirihnya memohon kepadaku.
“Iya wardah, kakak bakalan ke sana walaupun kakak masih takut. Demi
kamu, kakak mau melakukannya. Kamu sangat baik sama kakak dan mungkin
apa yag kak Hilmy lakuin belum sebanding dengan pengorbanan kamu untuk
kakak. Terimakasih banyak wardah, kamu sudah mau mendonorkan kornea
matanya untuk kak Hilmy,” senyumanku dibalas dengan senyuma manisnya.
“Terimakasih kak,” dia memelukku erat lalu sosoknya tiba-tiba
menghilang entah kemana. Aku tertegun , menatap sekeliling ruang kamarku
yang hening. Apa barusan itu nyata atau hanya sekedar mimpi? Mungkin
inilah yang selalu dialami adikku Acep.
***
Angin semilir pantai terasa sejuk walaupun awalnya aku merasa gugup
karena rasa takut masih menyergapku. Untungnya, dengan tekadku yang
besar untuk mewujudkan mimpi peri kecil penolongku dan tentu saja berkat
dorongan semangat sahabatku Arah dan adikku Acep juga, aku bisa
mengusir rasa trauma secara perlahan. Kini aku telah berani berdiri
sendiri dibibir pantai, membiyarkan air laut menggerayangi telapak
kakiku. Awalnya aku tidak mau melakukan hal ini. Namun dengan sabar Arah
dan Acep menuntunku mendekati bibir pantai yang pada akhirnya aku bisa
melewati ketakutanku sendiri.
“Kak Arah.. Ayo kejar aku..!!”teriak adikku gembira. Dia dan Arah
masih asyi berkejar-kejaran di pinggir pantai. Setelah luas memandangi
laut lepas, kuputuskan untuk beristirahat di atas tikar yang sengaja
kami sewa.
“bagaimana sekarang my?” tanpa kusadari, Arah sudah ikut duduk disebelahku. Nafasnya masih ngos-ngosan karena kecapean.
“Jauh lebih baik,” sahutku. Mataku tak lepas dari sosok adikku yangkini sedang asyik membuat istana dari pasir.
“Adik lo kelihatannya seneng banget ya?”
Tentu Rah,dia lagi asyik main pasir bareng wardah,”
“wardah?” Arah terbengong-bengong. Dimatanya, acep sedang bermain
sendirian. Tapi dalam pandanganku Acep sedang asyik bermain pasir dengan
sahabatnya, wardah.
“kadang apa yang lo lihat nggak seperti yang gue lihat,Rah”tuturku
meyakinkannya. Sebelumnya, aku memang telah bercerita tentang Wardah dan
alasanku untuk nekat pergi ke pantai bersamanya.
“Lihat!Mereka berdua sedang kejar-kejaran. Acep merusak istana pasir wardah dan itu membuat wardah kesal..” tawaku riang.
“Hmm.. gue Cuma lihat adik lo lari-lari sendiri sambil tertawa sendirian,”celetuknya membuatku kembali terkekeh.
Hari semakin sore, setelah membersihkan diri dan makan Ayam bakar di
sebuah restoran pinggir pantai, kami memutuskan untuk pulang. Tidak lupa
kami bertiga mengamati sunset dulu. Indah, sangat indah. Kami larut
dalam lamunan masing-masingketika memandangi semburat cahaya kuning
sunset itu. Hatiku terasa damai dan begitu tenang, setenang air laut
yang mulai surut. Setenang adikku dan Arah yang ikut terbawa suasana.
Angin semilir pinggir pantai seolah membawa angan-angan ke tengah laut
lepas.
“Wardah, semoga kamu melihat dan menikmatinya juga,”gumamku penuh
harap. Seolah mendapatkan bisikan misterius, aku mendengar suara Wardah
ditelingaku.
“Terimakasih kak, hari ini aku sangat bahagia. Ternyata benar kata
mamaku, pantai itu sangat menakjubkan. Indah sekali kak,”perlahan-lahan
suara tawa riang Wrdah menghilang bersamaan dengan hilangnya sunset dari
penglihatanku.
***
Di perjalanan pulang, hari telah berubah gelap. Aku dan Acep duduk di
jok belakang, sedangkan Arah di depan dan mobilnya di kemudikan oleh
supir aku, Pak Ucup. Arah dengan asyiknya mendengarkan music yang
diputarnya. Ku lirik adikku yang duduk disampingku, sudah tidur dengan
pulasnya. Kepalanya bersandar dipundakku.
Entah karena melihat adikku terlelap, aku jadi ikut-ikutan mengantuk
dan akhirnya menyusul Acep kea lam bawah sadar. Tidak lama berselang,
aku seperti berada dirumah yang sangat besar dan mewah. Barang-barang
yang antic dan elektronik terpajang diruangan itu. Disebuah anak tangga
yang paling bawah, aku melihat Wardah berdiri seraya tersenyum manis
kearahku. Wardah tampak menggunakan gaun berwarna merah yang sangat
indah. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan pakaian itu.
“Ini rumahku kak, Acep sudah berada diatas. Ayo kak!.”tanpa ajakan
Wardah yang kedua kalinya, aku langsung mengikuti kemana dia pergi.
Menaiki anak tangga demi anak tangga yang lumayan banyak. Dua lantai
telah kami lalui dan tibalah kami disebuah kamar yang tidak kalah besar
dari ruangan yang lainya. Aku dan Wrdah langsung masuk kesana. Seketika
aku merasakan suhu diruangan ini terasa dingin menusuk kulit. Kamarnya
sungguh aneh, tidak ada perabotan apa-apa disini. Di tengah-tengah
ruangan ada ruangan lagiyang seluruhnya terbuat dari kaca bening. Aku
bisa melihat ke dalam ruang berdinding yang serba kaca itu. Hanya ada
sebuah tempat tidur yang besar dan peralatan kedokteran yang canggih
disana. Diatas tempat tidu itu terbaring sesosok orang yang sama sekali
tidak aku kenali. Seluruh tubuhnya dibalut oleh perban seperti mummy.
Adikku juga tampaknya sedang mengamatitubuh yang terbaring itu dari
balik kaca.Acep tidak menyadari kehadiranku yang bediri agak jauh
dibelakangnya. Karena rasa penasaranku yang besar, akupun memberanikan
diri untuk bertanya kepada Wardah.
“Wardah, siapa dia? Koq badannya dibalut perban seperti mummy? Apakah dia sudah meninggal?” tanyaku ingin tahu.
“Itu jasadku kak, aku kan sudah bilang kalau kulitku tidak kuat jika
berada di suhu yang hangat. Makannya ruangan ini sengaja dibuat dingin.
Setiap hari aku harus gati perbansupaya kulitku tetap lembab. Aku sedih
kak, mama papaku sudah mengeluarkan biaya yang banyak untuk merawatku.
Aku tidak mau menyusahkan mereka lagi. Aku juga sudah merepotkan Acep
dan Kak Hilmy. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, dan inilah
saatnya aku untuk pergi”
“Jangan berbicara seperti itu Wardah, Semua penyakit itu pasti ada
obatnya. Kamu tidak pernah merepotkan siapapun. Mama papamu melakukannya
karena mereka sayang padamu, dan kamu tidak pernah merepotkan kakak dan
Acep. Malah kakak hutang budi sama kamu, wardah”
“iya aku tahu kak, tapi aku harus pergi kak.” Wardah menatapku sedih.
Kupalingkan wajahku kearah adikku. Acep mulai menyadari kedatanganku
dan langsung menghambur kearah kami.
“Wardah, jangan pergi. Jangan tinggalin aku” lirihnya terdengar parau.
“Maafin aku cep, kamu jangan sedih ya. Suatu saat kita pasti bertemu lagi cep,”
“nggak Wardah, aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu nggak boleh pergi, hiks hiks,” adikku mulai terisak.
“Sudahlah cep, kamu jangan nangis, aku bakalan berat ninggalin kalian,” Wardah memeluk adikku erat.
“Tapi Wardah..”
“Ssttt.. Lihat aku cep! Aku ingin melihat kamu tersenyum untuk yang
terakhir kalinya. Ayo cep, kamu jangan nangis lagi,” Wardah menghapus
air mata adikku dengan jari-jarinya. Walaupun terpaksa, adikku tersenyum
juga, membuat Wardah ikut memberikan senyum termanisnya kearah adikku
dan aku.
“Kak Hilmy, Acep, terimakasih buat semuanya. Selamat tinggal kak, selamat tinggal cep, aku bakalan kangen banget sama kalian,”
“Wardah..!!” suaraku dan acep yang keluar secara bersamaan. Kami
berusaha mencegahnya untuk pergi. Namun sosok wardah perlahan-lahan
mulai menjauh dari pandangan kami. Dia terus melambaikan tangannya
kearah aku dan Acep. Ekspresi wajahnya terlihat begitu bahagia. Setelah
sosoknya benar-benar menghilang, aku menggenggam tangan adikku dan
mengajaknya keluar dari ruangan itu.
“Ayo cep, kita harus pergi dari sini,” aku menyeret adikku yang masih
enggan meninggalkan kamar wardah. Matanya masih tertuju kearah jasad
Wardah yang terbaring dibalik dinding kaca. Setibanya dipintu keluar,
adikku melepaskan pegangan tanganku kemudian mendorongku keluar dari
sana. Lalu dengan cepat, dia mengunci pintunya dari dalam.
“Maafin Acep kak, Acep pengen tetap disini nemenin wardah,” teriaknya dari balik pintu kamar.
“Cep.. buka cep, kita harus pulang. Buka pintunya cep!!” aku
menggedor-gedor pintu dan berusaha mendobraknya. Pintu itu tetap kokoh
dan tidak bisa roboh. Tenaga ku tidak cukup kuat untuk menghancukannya.
“Cep, buka pintunya cep. Relakan wardah pergi cep, dia sudah nggak
ada. Ayo buka pintunya cep, kakak mohon,” aku terus berusaha
membujuknya. Namun suara adikku sudah tidak terdengar lagi. Aku menangis
dibalik pintu karena memikirkan adikku. Dia memang sudah menganggap
Wardah itu sahabat sejatinya, ataukah mungkin lebih dari sahabat.
Beberapa saat kemudian kepalaku mulai terasa berputar, tubuhku seperti
terbang meninggalkan rumah mewah itu. Dari sebuah jendela kamar, aku
masih bisa melihat sosok adikku melambaikan tangannya kearahku.
“Aceeeepppp..!!” teriakku memanggilnya. Adikku tetap tidak menghiraukan aku. Dia hanya memberikan senyuman hambarnya untukku.
“Aceeeppp…!!!”
“My, bangun my! Lo nggak apa-apa kan?” dan mendapati tubuhku masih berada di dalam mobil.
“Rah, kita dimana? “tanyaku masih setengah sadar. Keringat dingin
terus membanjiri tubuhku dan aku langsung melihat sekelilingku. Acep
masih terlelap disampingku. Fiyuuuhh.. syukurlah, ternyata Cuma mimpi
buruk. Perasaanku langsung terasa lega.
“Masih di jalan My, gue sengaja berhenti dulu soalnya lo
teriak-teriak terus, bikin gue takut, kirain lo kesurupan,” arah masih
terlihat was-was.
Aku tidak memperdulikan ocehan sahabatku. Kini aku fokus ke tubuh
adikku yang masih bersandar di pundakku. Kuraba keningnya dengan
punggung telapak tanganku. Dingin, sangat dingin. Itu sedikit khawatir
dengan keadaan adikku.
“Cep.. bangun Cep, Acepp,” aku mencoba membangunkannya denga cara
mengguncang-guncang pundaknya dan juga menepuk pipinya berulang-ulang.
Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
“Cepp.. bangun Cep,” aku mulai panic. Seketika itu juga aku menangis,
memriksa lehernya, memegang pergelangan tangannya yang dingin. Aku
tidak merasakan ada denyut nadi disana. Adikku sudah tertidur dan tak
pernah bangun lagi.
***
The End